NP86|Mentok, BangkaBarat —Tidak semua tulisan lahir dari riuhnya meja redaksi. Tidak pula setiap karya tumbuh hanya dari sebuah peristiwa yang kemudian dijahit menjadi berita.
Ada tulisan yang justru lahir ketika dunia seakan mengecil di sudut ruang yang sederhana, ditemani aroma kopi yang perlahan mengisi udara, percakapan ringan yang mengalir tanpa beban, dan keheningan yang menjadi ruang bagi pikiran untuk menemukan jalannya sendiri.
Sebab bagi seorang jurnalis, kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf. Ia adalah jejak pikiran yang melewati lorong batin sebelum akhirnya dititipkan kepada kertas.
“Ketikan dan pikiran harus searah dengan batin yang meresapkan hati. Ketika ketenangan tidak hadir di dalam jiwa, sulit sebuah tulisan menjelma menjadi karya.”
Prinsip itu menjadi salah satu warna dalam perjalanan jurnalistik Ketua Asosiasi Profesional Jurnalis Indonesia (APJI) DPD Bangka Belitung, Febriansyah Bin H. Danial Karim, alm.
Baginya, pena bukan sekadar alat untuk menulis peristiwa. Pena adalah jembatan antara apa yang dilihat mata, dipikirkan akal, dan dirasakan hati.
Karena berita mungkin selesai ketika informasi telah tersampaikan. Namun karya akan tetap hidup ketika di dalamnya ada rasa, ada makna, dan ada sepotong jiwa dari orang yang menuliskannya.
Sebab terkadang, sebuah karya tidak lahir dari suara yang paling keras, melainkan dari hati yang paling tenang.
Baginya, jurnalistik bukan sekadar aktivitas mengetik informasi. Sebuah karya jurnalistik harus memiliki pijakan. Ada peristiwa, ada data, ada fakta, dan ada tanggung jawab moral di balik setiap kalimat yang dituliskan.
Karena itu, seorang jurnalis tidak hanya dituntut mampu melihat sebuah peristiwa, tetapi juga harus mampu merasakan denyut kehidupan yang berada di balik peristiwa tersebut.
Di tengah rutinitasnya, Febriansyah memiliki cara sederhana untuk mencari ruang inspirasi. Salah satunya dengan menikmati suasana kedai kopi.
Salah satu tempat yang menjadi ruang refleksinya adalah Cafe Klasik, Kampung Baru, Kelurahan Keranggan, Mentok.
Puluhan meja dengan karakter dan keunikannya masing-masing menghadirkan suasana yang cukup tenang. Secangkir kopi hitam menjadi teman untuk menyusun pikiran, membaca keadaan, sekaligus mencari sudut pandang baru sebelum sebuah tulisan dilahirkan.
Aroma kopi dan suasana kedai seolah menjadi bagian dari proses kreatif. Bukan semata tentang kopi, melainkan tentang bagaimana seseorang memberikan ruang kepada pikirannya untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk aktivitas.
Dari sana, inspirasi bisa muncul.
Sebab bagi seorang jurnalis, ide terkadang tidak datang ketika dipaksa. Ia hadir ketika pikiran menemukan ketenangan.
Namun inspirasi saja tidak cukup.
Tulisan yang baik harus kembali kepada fakta. Peristiwa harus diperiksa. Data harus dikumpulkan. Informasi harus diverifikasi. Dan setiap kalimat harus mampu dipertanggungjawabkan.
“Jurnal ya jurnal. Saya menuliskan sesuai dengan peristiwa yang semestinya. Bukan sekadar informasi, tetapi harus mempunyai data,” menjadi sebuah prinsip yang menggambarkan bagaimana Febriansyah memandang dunia jurnalistik.
Di situlah letak perbedaan antara sekadar menulis dan menghasilkan karya.
Menulis adalah aktivitas menuangkan kata.
Sementara berkarya adalah menghadirkan sesuatu yang memiliki makna, fakta, dan nilai bagi pembaca.
Dalam kesehariannya, Febriansyah juga menjadikan doa sebagai bagian dari awal aktivitas. Sebelum memulai pekerjaan, ia menyempatkan diri memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa.
Setelah itu, langkahnya berlanjut mencari ruang yang dapat menghadirkan ketenangan sekaligus membuka jalan bagi inspirasi.
Warkop atau kedai kopi bukan sekadar tempat menikmati minuman baginya. Tempat-tempat sederhana seperti itu bisa berubah menjadi ruang berpikir, ruang mengamati, bahkan ruang untuk melahirkan sebuah gagasan.
Dari sebuah meja kopi, seorang jurnalis bisa mengamati kehidupan.
Dari secangkir kopi, ia bisa menemukan cerita.
Dan dari ketenangan, sebuah tulisan dapat menemukan jiwanya.
Jurnalistik pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah berita dipublikasikan. Lebih dari itu, jurnalistik adalah tentang bagaimana seorang penulis mampu menghadirkan fakta dengan hati, menyajikan data dengan tanggung jawab, dan merangkai kata tanpa kehilangan nurani.
Karena tulisan yang lahir dari pikiran mungkin hanya menjadi informasi.
Tetapi tulisan yang lahir dari pikiran, data, fakta dan ketenangan batin yang bisa menjadi sebuah karya.
Mentok,Cafe klasik- 02/09/2026,
Di antara aroma kopi hitam dan suasana yang tenang, sebuah jurnal kembali dimulai.
Bukan sekadar untuk menulis.
Tetapi untuk mengabadikan peristiwa menjadi cerita yang memiliki makna.(W2S)
