News Memuat berita...
Iklan

SEBUTIR KURMA YANG MENGGETARKAN HATI IBRAHIM BIN ADHAM




NP86|Bangka-Belitung—Kadang, sesuatu yang terlihat begitu kecil di mata manusia, ternyata begitu besar nilainya di hadapan Allah.

Ada sebuah kisah yang begitu menyentuh tentang Ibrahim bin Adham rahimahullah, seorang ulama dan ahli zuhud yang dikenal karena kesungguhan ibadah dan kehati-hatiannya dalam menjaga diri dari perkara yang haram maupun syubhat.

Kisah ini mengajarkan bahwa kesalahan yang tampak sepele tidak boleh dianggap remeh, terlebih jika menyangkut hak milik orang lain.

Selepas menunaikan ibadah haji di Makkah, Ibrahim bin Adham berniat melanjutkan perjalanan menuju Masjid Al-Aqsa. Sebelum berangkat, ia membeli satu kilogram kurma dari seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram sebagai bekal perjalanan.

Transaksi pun selesai. Kurma telah dibungkus.

Namun, ketika hendak pergi, matanya melihat sebutir kurma yang tergeletak di dekat timbangan.

Dalam pikirannya, kurma itu mungkin bagian dari kurma yang baru saja dibelinya.

Ia mengambilnya.

Lalu memakannya.

Tidak ada niat mencuri. Tidak ada keinginan mengambil hak orang lain.

Hanya sebuah kekhilafan kecil yang tidak disengaja.

Setelah itu, Ibrahim meninggalkan Makkah dan meneruskan perjalanan.

Empat bulan kemudian, ia tiba di Palestina.

Di Kompleks Masjid Al-Aqsa, di bawah Kubah Sakhra, Ibrahim memilih tempat yang tenang untuk berkhalwat. Ia salat, berzikir dan berdoa dengan penuh kekhusyukan.

Namun, pada suatu ketika, ia mendengar percakapan dua malaikat.

"Itulah Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah yang zuhud dan wara'. Doanya selalu dikabulkan Allah."

Malaikat lainnya menjawab,

"Tidak lagi sekarang."

Ibrahim terdiam.

"Mengapa?"

"Karena empat bulan lalu, ia memakan sebutir kurma yang belum menjadi haknya dari seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram."

Hati Ibrahim seketika bergetar.

Ia teringat pada sebutir kurma yang pernah dimakannya.

Sesuatu yang selama ini ia anggap tidak berarti.

Namun ternyata, perkara kecil itu begitu berat di hadapan Allah karena menyangkut hak manusia.

Air matanya jatuh.

Ia beristighfar.

Ia menyesal.

Dan ia tidak mencari alasan dengan mengatakan bahwa dirinya tidak sengaja.

Ia memilih bertanggung jawab.

Tanpa menunda waktu, Ibrahim kembali menempuh perjalanan panjang dari Palestina menuju Makkah.

Sesampainya di tempat pedagang tua itu dahulu berjualan, ia tidak menemukan orang yang dicarinya.

Seorang pemuda yang berada di sana mengatakan bahwa pedagang tua tersebut telah meninggal dunia sebulan sebelumnya.

Betapa sedih hati Ibrahim.

Namun ia tidak menyerah.

Ia menceritakan kekhilafannya dan meminta agar sebutir kurma yang pernah dimakannya dihalalkan.

Pemuda itu berkata bahwa dirinya bersedia menghalalkannya.

Tetapi ia memiliki sebelas orang saudara.

Ia tidak berani mengatasnamakan seluruh ahli waris.

Maka Ibrahim meminta alamat mereka satu per satu.

Ia mendatangi seluruh ahli waris, meskipun harus berjalan jauh dan menelusuri tempat-tempat yang berjauhan.

Bukan karena harga sebutir kurma itu mahal.

Tetapi karena bagi Ibrahim, yang menjadi persoalan bukanlah harga kurmanya—melainkan keridhaan pemiliknya.

Ia terus mencari.

Terus mendatangi.

Terus memohon.

Hingga akhirnya seluruh ahli waris mengikhlaskan dan menghalalkan sebutir kurma tersebut.

Barulah hati Ibrahim terasa lega.

Ia kembali ke Palestina.

Empat bulan kemudian, ia kembali berada di bawah Kubah Sakhra.

Dalam kekhusyukan ibadahnya, kembali terdengar percakapan dua malaikat.

"Itulah Ibrahim bin Adham yang dahulu doanya tertolak karena memakan sebutir kurma milik orang lain."

Malaikat lainnya menjawab,

"Sekarang doanya telah diterima. Ia telah mendapatkan kehalalan dari seluruh ahli waris pemilik kurma tersebut. Dirinya telah terbebas dari perkara itu."

Betapa dalam makna kisah ini.

Ibrahim bin Adham tidak menganggap kecil sebuah kesalahan hanya karena nilainya kecil.

Ia tidak berkata, "Saya tidak sengaja."

Ia tidak berkata, "Hanya sebutir kurma."

Ia justru menempuh perjalanan yang sangat jauh demi memastikan satu hak manusia telah dikembalikan.

Sebab ia memahami bahwa hubungan seorang hamba dengan Allah juga tidak boleh mengabaikan hak sesama manusia.

Kisah ini mengajarkan kepada kita untuk berhati-hati dalam setiap apa yang kita makan, kita miliki, kita gunakan dan kita ambil.

Sebab bisa jadi sesuatu yang menurut kita kecil, ternyata menjadi perkara besar di hadapan Allah.

Jangan remehkan dosa karena kecilnya.

Dan jangan pula merasa bahwa kebaikan itu tidak berarti hanya karena terlihat sederhana.

Satu butir kurma saja membuat seorang Ibrahim bin Adham rela menempuh perjalanan panjang demi mendapatkan keikhlasan pemiliknya.

Maka, sudahkah kita memastikan bahwa rezeki yang masuk ke rumah kita benar-benar halal?

Sudahkah kita memastikan bahwa tidak ada hak orang lain yang masih melekat pada apa yang kita miliki?

Semoga Allah membersihkan hati kita, menghalalkan rezeki kita, menjauhkan kita dari mengambil hak orang lain, serta menerima setiap doa dan amal ibadah kita.(Red)

Wallahu a'lam bish-shawab.


Baca Juga

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak