BANGKA BARAT, Narasipublik86.web.id — Gelap malam di kawasan muara Desa Mancung, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, mendadak pecah oleh teriakan minta tolong. Randi Saputra (17), yang sedang memancing bersama temannya, tiba-tiba diterkam seekor buaya hingga tubuhnya terseret ke dalam air.
Peristiwa itu terjadi pada Selasa (25/8/2026) sekitar pukul 22.00 WIB. Tak ada yang menyangka aktivitas memancing yang semula berlangsung biasa berubah menjadi perjuangan menyelamatkan nyawa.
Berdasarkan keterangan saksi, Randi saat itu memancing bersama Marwan (15) di kawasan muara Desa Mancung. Ketika keduanya berada di sekitar perairan, seekor buaya tiba-tiba menerkam Randi.
Buaya tersebut kemudian menyeret korban ke dalam air.
Dalam situasi mencekam itu, Randi berusaha melakukan perlawanan. Ia berteriak meminta pertolongan. Teriakan tersebut didengar Marwan yang berada tidak jauh dari korban.
Marwan kemudian berusaha menarik kaki Randi. Upaya itu akhirnya berhasil membawa korban kembali ke pinggir muara.
Namun, serangan tersebut membuat Randi mengalami luka berat. Pergelangan tangan kirinya mengalami patah tulang akibat gigitan buaya.
Randi kemudian mendapatkan perawatan medis dan dijadwalkan menjalani operasi di RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang.
Kabar mengenai serangan buaya tersebut segera mendapat perhatian Polsek Kelapa, Polres Bangka Barat. Personel kepolisian mendatangi tempat kejadian perkara untuk melakukan pengumpulan bahan keterangan sekaligus memantau kondisi keamanan di sekitar lokasi.
Kapolres Bangka Barat AKBP Helen Simanjuntak, S.H., S.I.K., M.H., melalui Kasi Humas Polres Bangka Barat Iptu Yos Sudarso mengatakan, personel Polsek Kelapa bergerak setelah menerima informasi mengenai kejadian tersebut.
“Anggota Polsek Kelapa bersama Unit Intelkam dan Bhabinkamtibmas Desa Mancung telah mendatangi lokasi, mendatangi keluarga korban, meminta keterangan saksi, serta melakukan monitoring situasi kamtibmas,” kata Iptu Yos, Rabu (26/8/2026).
Selain mendatangi lokasi dan keluarga korban, polisi juga melakukan pendekatan kepada masyarakat. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul keresahan warga menyusul serangan buaya.
Sebagian warga bahkan disebut berencana menangkap dan memusnahkan buaya yang diduga menyerang Randi.
Polisi memahami keresahan tersebut. Namun, masyarakat diminta tidak bertindak sendiri terhadap satwa liar.
“Kami memahami keresahan masyarakat, namun kami mengimbau agar tidak melakukan tindakan sendiri terhadap satwa liar. Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan instansi terkait untuk penanganannya,” ujar Iptu Yos.
Peristiwa yang dialami Randi menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih berhati-hati ketika beraktivitas di sekitar sungai maupun muara yang berpotensi menjadi habitat buaya.
Terlebih, kejadian berlangsung pada malam hari, saat jarak pandang terbatas dan keberadaan satwa liar sulit dideteksi.
Polsek Kelapa mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta menghindari aktivitas di kawasan muara atau sungai yang berpotensi menjadi tempat hidup buaya.
“Jika masyarakat melihat keberadaan buaya, segera laporkan kepada pihak berwenang dan jangan mengambil tindakan sendiri,” katanya.
Polsek Kelapa Polres Bangka Barat memastikan pemantauan di sekitar lokasi akan terus dilakukan. Langkah itu untuk mengantisipasi kemungkinan serangan susulan sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
Malam itu, Randi memang berhasil ditarik kembali ke tepian. Tetapi, luka di pergelangan tangannya menjadi pengingat bahwa di balik permukaan muara yang terlihat tenang, bahaya bisa muncul tanpa suara.
Bagi warga Mancung, kejadian tersebut menyisakan satu pesan penting ketika berada di wilayah yang menjadi habitat satwa liar, kewaspadaan harus datang lebih dulu sebelum musibah. (Belva)
